زِيَادَاتٌ وَمُخَطَّطَاتٌ

زِيَادَاتٌ

Tambahan-tambahan (Catatan Penting)

أَوَّلًا: قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ الْإِعْرَابَ وَالْبِنَاءَ يَتَعَلَّقَانِ بِالْحَرْفِ الْأَخِيرِ مِنَ الْكَلِمَةِ، فَحِينَئِذٍ نَقُولُ فِي تَعْرِيفِ عِلْمِ النَّحْوِ: قَوَاعِدُ يُعْرَفُ بِهَا ضَبْطُ آخِرِ الْكَلِمَةِ مِنْ حَيْثُ الْإِعْرَابُ وَالْبِنَاءُ، وَيَكُونُ مَوْضُوعُ عِلْمِ النَّحْوِ هُوَ الْكَلِمَةَ مِنْ حَيْثُ مَا يَعْرِضُ لَهَا مِنْ إِعْرَابٍ أَوْ بِنَاءٍ.

Pertama: Engkau telah mengetahui bahwa i'rab dan bina' berkaitan dengan huruf terakhir dari sebuah kata. Maka ketika itu kita katakan dalam definisi ilmu Nahwu: Kaidah-kaidah yang dengannya diketahui pengaturan akhir kata dari sisi i'rab dan bina'. Dan jadilah objek pembahasan ilmu Nahwu adalah kata dilihat dari sisi apa yang terjadi padanya berupa i'rab atau bina'.

ثَانِيًا: قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ الْكَلِمَةَ تَتَرَكَّبُ مِنْ أَحْرُفِ الْهِجَاءِ، وَعَلِمْتَ أَنَّ الْكَلِمَةَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: اسْمٌ، وَفِعْلٌ، وَحَرْفٌ. فَحَرْفُ الْهِجَاءِ، غَيْرُ الْحَرْفِ الَّذِي هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الْكَلِمَةِ؛ فَإِنَّ أَحْرُفَ الْهِجَاءِ لَا مَعْنَى لَهَا وَإِنَّمَا بِجَمْعِهَا مَعَ بَعْضِهَا يَحْصُلُ لِلْكَلِمَةِ مَعْنًى.

Kedua: Engkau telah mengetahui bahwa kata itu tersusun dari huruf-huruf hijaiyah. Dan engkau telah mengetahui bahwa kata itu ada tiga bagian: Isim, Fi'il, dan Huruf. Maka Huruf Hijaiyah itu berbeda dengan Huruf yang merupakan bagian dari kata. Karena sesungguhnya huruf-huruf hijaiyah itu tidak memiliki makna, dan hanya dengan menggabungkannya satu sama lain barulah sebuah kata memiliki makna.

أَمَّا الْحُرُوفُ مِثْلُ: ( مِنْ - فِي - إِلَى ) فَهَذِهِ تَدُلُّ عَلَى مَعْنًى فِي الْجُمْلَةِ فَمَثَلًا مَعْنَى مِنْ هُوَ الِابْتِدَاءُ وَمَعْنَى إِلَى هُوَ الِانْتِهَاءُ تَقُولُ ذَهَبْتُ مِنْ بَغْدَادَ إِلَى الْبَصْرَةِ، وَمَعْنَى فِي هُوَ الظَّرْفِيَّةُ أَيْ حُلُولُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِهِ مِثْلُ دَخَلْتُ فِي الْمَسْجِدِ. فَحَرْفُ الْهِجَاءِ يُسَمَّى بِحَرْفِ الْمَبْنَى لِأَنَّ الْكَلِمَةَ تُبْنَى مِنْهُ، وَالْحَرْفُ الَّذِي هُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْكَلِمَةِ يُسَمَّى بِحَرْفِ الْمَعْنَى لِدَلَالَتِهِ عَلَى مَعْنًى فِي الْكَلَامِ، فَحُرُوفُ الْمَبْنَى لَا يُبْحَثُ عَنْهَا فِي النَّحْوِ، وَإِنَّمَا يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ حُرُوفِ الْمَعْنَى.

Adapun Huruf seperti: (min - fi - ila), maka ini menunjukkan suatu makna di dalam kalimat. Misalnya makna "min" adalah permulaan (ibtida') dan makna "ila" adalah akhir (intiha'), engkau berkata "Aku telah pergi dari Baghdad ke Bashrah". Dan makna "fi" adalah zharaf (tempat/waktu), yaitu menempatinya sesuatu pada selainnya, seperti "Aku masuk di dalam masjid". Maka huruf hijaiyah dinamakan dengan Huruf Mabna (bangunan) karena kata dibangun darinya. Sedangkan huruf yang merupakan salah satu dari macam-macam kata dinamakan Huruf Ma'na karena penunjukannya atas suatu makna dalam kalimat. Maka Huruf Mabna tidak dibahas dalam ilmu Nahwu, dan sesungguhnya yang dibahas di dalamnya adalah Huruf Ma'na.

ثَالِثًا: قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ الْجَرَّ مُخْتَصٌّ بِالْأَسْمَاءِ فَلَا يَدْخُلُ الْأَفْعَالَ وَالْحُرُوفَ، وَبِالتَّالِي نَسْتَطِيعُ أَنْ نَعُدَّ الْجَرَّ أَيِ التَّغَيُّرَ بِالْكَسْرَةِ عَلَامَةً مِنْ عَلَامَاتِ الِاسْمِ مِثْلُ: ذَهَبَ زَيْدٌ إِلَى الْبَيْتِ فَالْبَيْتِ اسْمٌ لِوُجُودِ الْجَرِّ فِي آخِرِهِ.

Ketiga: Engkau telah mengetahui bahwa jar itu khusus untuk isim-isim, maka ia tidak masuk pada fi'il dan huruf. Dan karenanya, kita bisa menghitung jar yaitu perubahan dengan kasrah sebagai salah satu dari tanda-tanda isim. Contoh: "Zaid telah pergi ke rumah", maka "Al-Bait" adalah isim karena adanya jar di akhirnya.

ثُمَّ إِنَّ حُرُوفَ الْجَرِّ أَيِ الْحُرُوفَ الَّتِي تَجُرُّ آخِرَ الْكَلِمَةِ نَحْوَ ( مِنْ - إِلَى - عَنْ - عَلَى - فِي - الْبَاءِ ) لَا تَدْخُلُ إِلَّا عَلَى الْأَسْمَاءِ فَنَسْتَطِيعُ أَنْ نَعُدَّهَا عَلَامَةً هِيَ الْأُخْرَى، فَتَحَصَّلَ أَنَّ عَلَامَاتِ الِاسْمِ خَمْسٌ هِيَ: ( دُخُولُ أَلْ عَلَيْهِ - التَّنْوِينُ - الْإِسْنَادُ إِلَيْهِ - الْجَرُّ - حُرُوفُ الْجَرِّ ).

Kemudian sesungguhnya huruf-huruf jar, yaitu huruf-huruf yang men-jarkan akhir kata seperti (min - ila - 'an - 'ala - fi - ba'), tidak masuk kecuali pada isim-isim. Maka kita bisa menghitungnya sebagai tanda (isim) yang lain. Maka diperolehlah bahwa tanda-tanda isim ada lima yaitu: (Masuknya "Al" padanya - Tanwin - Isnad kepadanya - Jar - Huruf-huruf Jar).

رَابِعًا: قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ الْأَفْعَالَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: مَاضٍ، وَمُضَارِعٌ، وَأَمْرٌ. وَذَكَرْنَا عَلَامَةَ الْفِعْلِ الْمَاضِي وَهِيَ ( تَاءُ التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ )، وَعَلَامَةَ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ وَهِيَ ( لَمْ ) وَعَلَامَةَ فِعْلِ الْأَمْرِ الْمُرَكَّبَةَ وَهِيَ ( دَلَالَتُهُ عَلَى الطَّلَبِ + قَبُولُهُ يَاءَ الْمُخَاطَبَةِ )، وَهُنَالِكَ عَلَامَةٌ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْفِعْلِ الْمَاضِي وَالْمُضَارِعِ وَهِيَ ( قَدْ ) مِثْلُ قَدْ ذَهَبَ زَيْدٌ، وَقَدْ يَذْهَبُ زَيْدٌ، فَمَتَى وَجَدْتَ الْحَرْفَ ( قَدْ ) دَخَلَ عَلَى كَلِمَةٍ فَاعْلَمْ أَنَّهَا إِمَّا أَنْ تَكُونَ فِعْلًا مَاضِيًا، أَوْ مُضَارِعًا، وَهُنَالِكَ عَلَامَتَانِ إِضَافِيَّتَانِ لِلْمُضَارِعِ هُمَا: ( السِّينُ - وَسَوْفَ ) مِثْلُ سَيَضْرِبُ، وَسَوْفَ يَضْرِبُ، فَالسِّينُ وَسَوْفَ لَا يَدْخُلَانِ إِلَّا عَلَى الْمُضَارِعِ، فَصَارَ لَهُ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ هِيَ: ( لَمْ - السِّينُ - سَوْفَ ).

Keempat: Engkau telah mengetahui bahwa fi'il itu ada tiga bagian: Madhi, Mudhari', dan Amar. Dan telah kita sebutkan tanda fi'il madhi yaitu (Ta' Ta'nits yang sukun), dan tanda fi'il mudhari' yaitu (Lam), dan tanda fi'il amar yang tersusun yaitu (Penunjukannya atas tuntutan + penerimaannya terhadap Ya' Mukhatabah). Dan ada tanda yang berserikat (bersama) antara fi'il madhi dan mudhari' yaitu (Qad), contoh "Qad dzahaba Zaidun" (Zaid sungguh telah pergi), dan "Qad yadzhabu Zaidun" (Zaid terkadang pergi). Maka kapanpun engkau mendapati huruf (Qad) masuk pada sebuah kata, ketahuilah bahwa kata itu bisa jadi fi'il madhi, atau mudhari'. Dan ada dua tanda tambahan untuk mudhari', yaitu: (Sin - dan Saufa), contoh "Sayadhribu" (Dia akan memukul), dan "Saufa yadhribu" (Dia kelak akan memukul). Maka Sin dan Saufa tidak masuk kecuali pada mudhari'. Maka jadilah ia memiliki tiga tanda yaitu: (Lam - Sin - Saufa).

خَامِسًا: قَدْ مَرَّ عَلَيْكَ فِي الدُّرُوسِ وَصْفُ الْكَلِمَاتِ مِنْ حَيْثُ الْقَوَاعِدِ كَأَنْ نَقُولَ فِي جَاءَ زَيْدٌ ( جَاءَ ) فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، ( زَيْدٌ ) فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ فِي آخِرِهِ.

Kelima: Telah lewat atasmu dalam pelajaran-pelajaran penjelasan sifat kata dari sisi kaidah-kaidah, seperti kita berkata pada "Ja'a Zaidun", (Ja'a) adalah fi'il madhi mabni atas fathah, (Zaidun) adalah fa'il marfu' dan tanda rafa'nya adalah dhommah yang nampak di akhirnya.

مُخَطَّطَاتٌ تَوْضِيحِيَّةٌ

Skema Penjelasan

الْكَلِمَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى:

Kata terbagi menjadi:

١. مَبْنِيَّةٌ: (الْحُرُوفُ - الْأَفْعَالُ الْمَاضِيَةُ - أَفْعَالُ الْأَمْرِ).

1. Mabniyah (Tetap): (Huruf-huruf - Fi'il-fi'il Madhi - Fi'il-fi'il Amar).

٢. مُعْرَبَةٌ: وتَنْقَسِمُ إِلَى:

2. Mu'rabah (Berubah): Dan terbagi menjadi:

أ. الْأَفْعَالُ الْمُضَارِعَةُ (مَرْفُوعَةٌ - مَنْصُوبَةٌ - مَجْزُومَةٌ).

A. Fi'il-fi'il Mudhari' (Marfu' - Manshub - Majzum).

ب. الْأَسْمَاءُ (مَرْفُوعَةٌ - مَنْصُوبَةٌ - مَجْرُورَةٌ).

B. Isim-isim (Marfu' - Manshub - Majrur).

↩️